1.
Definisi Ilmu Fara’id:
Ilmu Fara’id, menurut ulama’ ahli fara’id, adalah ilmu untuk
mengetahui orang yang memperoleh atau tidak memperoleh harta warisan, dan
mengetahui bagiannya masing-masing dalam harta warisan.
Obyek Ilmu Fara’id
Obyek Ilmu Fara’id adalah harta peninggalan yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia/ wafat/ mati untuk pewarisnya.
3.
Hasil belajar:
Dapat memberikan hak kewarisan kepada ahli warisnya.
Mempelajari ilmu fara’id hukumnya fardhu kifayah. Mengamalkan dan menerapkan ilmu fara’id ketika ada kasus perwarisan hukumnya adalah fardhu ain.
Perhatian terhadap Ilmu Fara’id:
Ada banyak teks Al-Qur’an atau hadits yang menerangkan tentang
pentingnya memberikan harta warisan kepada ahli waris dengan kata yang jelas
dan gamblang. Dan pulan ulama yang menulis buku/ kitab yang membahas secara
khusus tentang harta warisan. Adapun dalilnya nanti aja.
HAK YANG BERKAITAN DENGAN HARTA PENINGGALAN
Ada 5 hal yang harus dipenuhi dan
ditunaikan lebih dulu sebelum harta warisan dibagi kepada ahli waris, sbb.:
1.
Biaya pemulasaraan jenazah, seperti biaya seperangkat penguburan
mayit dan upah memandikan jenazah.
2.
Penyelesaian masalah hutang si mayit, baik hak adamiy atau hak
Allah.
3.
Wasiat kepada selain ahli waris, yang besarnya maksimal sepertiga
(1/3) dari harta peninggalan.
SENDI PERWARISAN
Ada
3 pilar atau rukun perwarisan:
1.
Orang yang memberi warisan (Al-Muwarrits), yaitu orang yang
meninggal dunia secara real/ nyata atau yang ditetapkan menurut keputusan
hukum, seperti orang hilang (yang tidak diketahui dengan pasti hidup-matinya).
2.
Pewaris (orang yang masih hidup setelah Muwarrits) yang mewarisi
harta peninggalannya; atau diperkirakan masih hidup secara hukum seperti orang
hilang.
3.
Adanya harta peninggalan itu sendiri.
SYARAT PERWARISAN
Ada 3 syarat perwarisan:
1.
Kematian Muwarrits (orang yang memberi warisan), atau sudah
ditetapkan secara hukum adanya kematian, seperti orang hilang.
2.
Hidupnya pewaris (orang yang memperoleh warisan) di saat Muwarrits
meninggal dunia.
3.
Penetapan posisi pewaris dari sisi perkawinan, Wala’, atau
kerabat.
SEBAB PERWARISAN
Ada 3 sebab adanya perwarisan yang
sudah disepakati ulama:
1.
Pernikahan, yaitu adanya akad nikah yang shahih, walau belum
terjadi hubungan suami-istri.
2.
Nasab (kerabat hakiki), yaitu hubungan darah antara pewaris dan
muwarrits.
Nasab ini ada 3 kategori:
a.
Ubuwwah (Orangtua): bapak, ibu, kakek atau nenek dan seterusnya ke
atas.
b.
Bunuwwah/Anak (laki-laki atau perempuan), atau anak (laki-laki atau
perempuan)-nya anak laki-laki dan seterusnya ke bawah dari jalur laki-laki.
c.
Hawasyi (kerabat menyamping), yaitu saudara laki-laki, saudara
perempuan, anak laki-laki dari saudara laki-laki, paman (saudara laki-lakinya
bapak, dan anak laki-laki mereka.
3.
Wala’. (kerabat
secara hukum) yaitu: Perolehan harta warisan dari seorang budak yang telah
dimerdekakannya yang tidak memiliki ahli waris lewat pernikahan atau tanpa kerabat
secara hakiki.
Ada 3 hal penghalang perwarisan yang
telah disepakati para ulama secara permanen:
1.
Status budak.
2.
Pembunuhan, yaitu orang (sebagai ahliwaris) membunuh pewarisnya
dengan sengaja.
3.
Perbedaan agama: Muslim dengan non-muslim, atau Yahudi dengan
Nasrani.
AHLI WARIS
A.
Kelompok laki-laki.
Rinci |
Ringkas |
1. Anak laki-laki= ابن |
1. Anak laki-laki |
2. Cucu lk dari jalur laki-laki ke bawah= ابن الابن |
2. Cucu lk dari jalur laki-laki ke bawah |
3. Ayah= الأب |
3. Ayah |
4. Kakek dari jalur laki-laki |
4. Kakek dari jalur laki-laki |
5. Saudara laki-laki kandung |
5. Saudara laki-laki الإخوة (لأبوين/ لأب /لأم) |
6. Saudara laki-laki Seayah |
|
7. Saudara laki-laki Seibu |
|
8. Anak laki-laki dari saudara laki-laki Kandung |
6. Anak lk. dari saudara lk. kandung atau
seayah ابن الأخ (لأبوين/ لأب) |
9. Anak lk. dari saudara lk. Seayah |
|
10. Paman (sdr. ayah) kandung |
7. Paman (sdr. ayah) kandung/ seayah=(لأبوين/ لأب) العم |
11. Paman (sdr. ayah) seayah |
|
12. Anak lk.dari paman sekandung |
8. Anak lk.dari paman sekandung atau seayah= ابن العم لأبوين/ لأب |
13. Anak lk.dari paman seayah |
|
14. Suami |
9. Suami |
15. Orang laki-laki yg. memerdekakan budak |
10. Orang laki-laki yg. memerde-kakan budak= المعتق |
Jika ahli waris laki-laki ada semua,
maka yang mendapat warisan hanyalah 3 orang saja
1. Anak laki-laki= ابن
2. Ayah= الأب dan
3. Suami = زوج
Rinci |
Ringkas |
1. Anak perempuan |
1. Anak perempuan |
2. Cucu perempuan dari anak laki-laki |
2. Cucu perempuan dari anak laki-laki |
3. Ibu |
3. Ibu |
4. Nenek (ibunya ibu) |
4. Nenek dari ibu/ bapak |
5. Nenek (ibunya bapak) |
|
6. Saudara perempuan kandung |
5. Saudara perempuan kandung/ seayah/ seibu |
7. Saudara perempuan seayah |
|
8. Saudara perempuan seibu |
|
9. Istri |
6. Istri |
10. Wanita yang memerdekakan budak |
7. Wanita yang memerdekakan budak |
Kalau ahli waris wanita ini ada
semua, maka yang memperoleh warisan hanya 5 orang, yaitu:
1.
Anak perempuan بنت
2.
Cucu perempuan dari anak laki-laki بنت ابن
3.
Ibu أم
4. Saudara perempuan kandung أخت لأبوين
5. Istri. زوجة
Kalau ahli waris laki-laki dan
perempuan ada semua, maka yang memperoleh warisan hanya 5 orang saja:
1.
Anak laki, ابن
2.
Anak perempuan, بنت
3.
ayah, أب
4.
ibu أم
5.
suami/ istri. زوج
\ زوجة
MACAM-MACAM PERWARISAN
Dalam perwarisan/ ilmu fara’id, ahli
waris memperoleh hak waris itu ada dua cara:
I. 1. Dengan cara pasti, yaitu ahli waris memperoleh bagian tertentu (Al-Furudh
Al-Muqaddarah). Tidak boleh ditambah, kecuali kasus Radd dan tidak
boleh dikurangi, kecuali dalam kasus Aul.
Radd dan Aul ada diterangkan sendiri, InsyaAllah.
II. 2. Dengan cara sisa/ Ashabah, yaitu ahli waris memperoleh bagian sisa peninggalan. Sedikit-banyaknya relatif.
I.A. Bagian
Pasti/ Al-Furudh Al-Muqaddarah
Bagian/ saham ahli
waris yang ditentukan dengan pasti ada 6:
1.
Setengah/ النصف
2.
Seperempat/ الربع
3.
Seperdelapan/ الثمن
4.
Sepertiga/ الثلث
5.
Seperenam/ السدس
6.
Duapertiga/ الثلثان
Sedangkan
perolehan/ saham Sepertiga sisa/ ثلث
الباقي adalah hasil ijtihad sahabat Umar bin
Khattab RA. Untuk lebih jelasnya diterangkan berikut ini:
SETENGAH/ النصف
Ahli waris yang memperoleh bagian Setengah (1/2)/ النصف ada 5:
1.
Suami, dengan satu syarat yaitu tidak ada keturunan dari mayit,
seperti anak laki-laki/ ابن atau cucu perempuan dari anak laki-laki بنت ابن ke bawah.
2.
Anak perempuan بنت dengan 2 syarat, yaitu:
a.
Tidak ada Mu’ashib-nya yaitu saudara lelakinya.
b.
Tidak lebih dari satu orang.
3.
Cucu perempuan dari anak laki-laki, dengan 3 syarat:
a.
Tidak ada pewaris yang lebih tinggi, yaitu anak laki-laki, anak
perempuan.
b.
Tidak ada Mu’ashib-nya.
c.
Tidak bersama saudara perempuannya.
4.
Saudara perempuan kandung, dengan 4 syarat:
a.
Tidak adak keturunan dari mayit.
b.
Tidak orangtua laki-laki ke atas.
c.
Tidak adak Mu’ashib-nya
d.
Tidak lebih dari satu.
5.
Saudara perempuan seayah, dengan 5 syarat:
a.
Tidak ada keturunan dari mayit.
b.
Tidak ada orangtua laki-laki ke atas.
c.
Tidak ada saudara kandung laki-laki/ perempuan.
d.
Tidak ada Mu’ashib-nya
e.
Tidak lebih dari satu.
Keterangan: Mu’ashib
adalah saudara laki-laki yang sederajat. Misal Anak peremuan itu Muashib-nya
adalah anak laki-laki.
SEPEREMPAT/ الربع
Ahli
waris yang memperoleh bagian/ saham Seperempat (1/4) ada dua:
1.
Suami, mempereoleh bagian seperempat dengan satu syarat, yaitu:
adanya anak keturunan dari mayit.
2.
Istri, memperoleh ¼ harta warisan dengan satu syarat, yaitu tidak
ada keturunan dari mayit.
Ahli waris yang memperoleh 1/8
hanyalah istri, seorang atau lebih minimal empat istri, jika ada keturunan dari
mayit.
DUAPERTIGA / الثلثين
Ahli
waris yang memperoleh saham/ bagian Dua pertiga/ الثلثين adalah 4 orang, yaitu:
1.
Anak perempuan, dengan 2 syarat:
a.
Tidak ada Mu’ashib-nya
b.
Lebih dari seorang
2.
Cucu perempuan dari anak laki-laki, dengan 3 syarat:
a.
Tidak ada keturunan dari mayit
b.
Tidak ada Mu’ashib
c.
Lebih dari seorang.
3.
Saudara perempuan sekandung, dengan 4 syarat:
a.
Tidak ada keturunan darimayit,
b.
Tidak ada orangtua jalur bapak
c.
Tidak ada Mu’ashib
d.
Lebih dari seorang.
4.
Saudara perempuan sebapak, dengan 5 syarat:
a.
Tidak ada keturunan dari mayit,
b.
Tidak ada orangtua jalur bapak
c.
Tidak ada saudara kandung laki-laki/ perempuan
d.
Tidak ada Mu’ashib
e.
Lebih dari seorang.
SEPERTIGA/ الثلث
Ahli waris yang memperoleh saham/
bagian pasti ada 2 orang:
1.
Ibu/ الأم dengan 3 syarat:
a.
Tidak ada anak keturunan dari mayit,
b.
Tidak ada saudara laki-laki atau perempuan lebih dari satu,
c.
Tidak pada kasus Garrawain.
2.
Saudara laki-laki atau perempuan seibu/ الإخوة لأم dengan 3 syarat:
a.
Lebih dari 2 orang
b.
Tidak ada anak keturunan dari mayit
c.
Tidak ada orangtua laki-laki jalur bapak ke atas.
GARRAWAIN/ غرّوين
Garrawain adalah kasus perwarisan yang ahli warisannya adalah: Suami/ istri,
Ibu dan bapak. Seorang ibu memperoleh saham/ bagian harta Sepertiga Sisa ((الثلث الباقي
yaitu sisa harta setelah diberikan kepada ahli waris yang memperoleh saham
pasti. Sedang ayah/ أب mendapat sisa harta murni. Contoh:
|
Ahli Waris |
Shm |
AM |
|
Ahli Waris |
Shm |
AM |
|
|
|
6 |
|
|
|
12 |
|
Suami |
½ |
3 |
|
Istri |
¼ |
3 |
|
Ibu |
1/3 sisa |
1 |
|
Ibu |
1/3 sisa |
3 |
|
Bapak |
Sisa |
2 |
|
Bapak |
Sisa |
6 |
|
Jumlah |
|
6 |
|
Jumlah |
|
12 |
SEPERENAM/ السدس
Ahli
waris yang memperoleh Seperenam/ السدس ada 7 orang:
1.
Bapak/ أب dengan 1 syarat, yaitu adanya anak keturunan si mayit dari
jalur laki-laki kebawah. Kalau anak keturunannya itu perempuan, maka Bapak
dapat bagian sisa/ ashabah + seperenan. Jika keturunannya tidak ada, maka Bapak
dapat ashabah.
2. Kakek seperti kedudukan Bapak, dengan syarat seperti tersebut
3. Ibu/ أم , dengan 2 syarat:
a.
Adanya anak keturunan si mayit, baik laki-laki atau perempuan.
b.
Adanyya saudara laki-laki atau perempuan lebih dari satu.
4.
Cucu perempuan dari anak laki-laki/ بنت
الابن, seorang atau lebih
dengan satu syarat bersama dengan anak perempuan/ بنت. Kalau anak perempuan
tersebut dua orang atau lebih, maka cucu perempuan gugur/ mahjub, kecuali ia
bersama dengan Mu’ashib-nya.
5.
Saudara perempuan sebapak/ أخت لأب dengan satu syarat, yaitu ia bersama saudara perempuan
sekandung/ . أخت لأبوين
Tapi, jika perempuan sekandung lebih dari seorang, maka Saudara perempuan
sebapak gugur/ mahjub kecuali bila ia bersama dengan Mu’ashib-nya.
6.
Nenek/ جدة,
ibunya ibu/bapak dengan satu syarat, yaitu tidak bersama dengan ibu, atau nenek
yang lebih dekat dengan mayit.
7.
Saudara perempuan seibu/ أخت لأم dengan 3 syarat:
a.
Sendirian
b.
Tidak ada anak keturunan si mayit
c.
Tidak ada orangtua jalur laki-laki.
HUKUM KHUSUS BAGI SAUDARA
LAKI-LAKI/ PEREMPUAN SEIBU
أولاد الأم = أخ/ أخت لأم))
Saudara laki-laki/ perempuan seibu memperoleh
warisan sama rata tanpa membedakan jenis/ gender, dengan 2 syarat:
1.
Tidak ada anak keturunan, baik laki-laki atau perempuan dari
pewaris/ mayit.
2.
Tidak ada ahli waris jalur bapak.
Misal:
|
Ahli Waris |
Shm |
AM |
|
|
|
2 |
|
Anak perempuan |
½ |
1 |
|
3 orang saudara laki-laki seibu |
mahjub |
0 |
|
|||
|
Paman kandung |
Sisa |
1 |
|
Jumlah |
|
2 |
Dalam kasus ini
ada anak dari pewaris, sehingga saudara perempuan
seibu, mahjub.
|
Ahli
Waris |
Shm |
AM |
|
|
|
2 |
|
5
orang saudara laki-laki
seibu |
mahjub |
|
|
|||
|
Saudara
perempuan Kandung |
½ |
1 |
|
|||
|
Bapak |
Sisa |
1 |
|
Jumlah |
|
2 |
Dalam kasus ini ada orang tua laki-laki dari pewaris, sehingga saudara perempuan seibu, mahjub.
MEKANISME
MENENTUKAN ASAL-MASALAH
Dalam menentukan
pembagian saham/ perolehan masing-masing ahli waris, perlu ditetapkan Ashlul
Mas’alah atau angka Kelipatan Perkalian Kecil (KPK) agar mendapatkan angka
utuh, bukan angka pecahan bagi ahli waris. Ashlul mas’alah yang telah
disepakati itu ada 7 (tujuh), yaitu: 2, 3, 4, 6, 8, 12, dan 24. Bila ahli
warisnya terdiri dari orang yang memperoleh bagian sisa (Ashabah), maka
Ashlul mas’alah ditentukan oleh jumlah perkepala, di mana laki-laki dapat 2
(dua) dan perempuan dapat 1 (satu). Misal:
|
Ahli
waris |
Saham |
|
KPK |
|
|
|
|
3 |
|
Anak
laki-laki |
Ashabah |
2 |
2 |
|
Anak
perempuan |
1 |
1 |
|
|
Jumlah |
|
|
3 |
|
Ahli
waris |
Saham |
|
KPK |
|
|
|
|
4 |
|
Anak
laki-laki |
Ashabah |
2 |
2 |
|
Anak
laki-laki |
2 |
2 |
|
|
Jumlah |
|
|
4 |
NB/ catatan:
(KPK sebagai Ashlul Mas’alah yaitu angka untuk membagi saham
perolehan harta warisan).
Kalau ahli
warisnya hanya seorang saja yang memperoleh bagian tertentu, dan tidak ada ahli
waris lain, maka KPK-nya diambil dari angka penyebutnya. Misalnya:
|
Ahli
waris |
Saham |
KPK |
|
|
|
6 |
|
Ibu |
1/6 |
1 |
|
Jumlah |
|
6 |
|
Radd/
sisa |
|
5 |
NB:
(Tentang Radd akan
dijelaskan dalam bab tersendiri).
Kalau ada ahli waris Ashabah, maka KPK-nya juga diambil dari angka Penyebutnya.
Misal:
|
Ahli
waris |
Saham |
KPK |
|
|
|
6 |
|
Ibu |
1/6 |
1 |
|
Anak
laki-laki |
Sisa |
5 |
|
Jumlah |
|
6 |
Sedangkan bila ada
beberapa ahli waris yang memperoleh bagian pasti lebih dari satu, maka untuk
menentukan KPKnya ada 4 opsi:
1.
Mumatsalah, yaitu dua angka yang senilai, misal:
|
Ahli
waris |
Saham |
KPK |
|
|
|
2 |
|
Suami |
1/2 |
1 |
|
Saudara
perempuan seayah |
1/2 |
1 |
|
|||
|
Jumlah |
|
2 |
2.
Mudakhalah, angka yang besar dapat dibagi oleh angkan yang kecil, tanpa
sisa, dan KPK-nya diambilkan dari angka yang besar. Misal:
|
Ahli
waris |
Saham |
KPK |
|
|
|
8 |
|
Istri |
1/8 |
1 |
|
Anak
perempuan |
1/2 |
4 |
|
Saudara
perempuan seayah |
sisa |
3 |
|
|||
|
Jumlah |
|
8 |
|
Ahli
waris |
Saham |
KPK |
|
|
|
|
6 |
|
|
Ibu |
1/6 |
1 |
|
|
2
Anak perempuan |
2/3 |
4 |
@
2 |
|
Anak
laki-laki dari saudara seayah |
sisa |
1 |
|
|
|
|||
|
Jumlah |
|
6 |
|
3.
Muwafaqah, yaitu setiap dua angka yang dapat dibagi oleh angka yang
ketiga, lalu hasilnya dikalikan kepada salah satu dari dua angka tersebut.
Misal:
|
Ahli waris |
Saham |
KPK |
|
|
|
12 |
|
Suami |
1/4 |
3 |
|
Bapak |
1/6 |
2 |
|
Anak laki-laki |
Sisa |
7 |
|
Jumlah |
|
12 |
|
Ahli waris |
Saham |
KPK |
|
|
|
24 |
|
Istri |
1/8 |
3 |
|
Bapak |
1/6 |
4 |
|
Anak laki-laki |
Sisa |
17 |
|
Jumlah |
|
24 |
4.
Mubayanah, yaitu setiap angka/ bilangan yang satu dengan lainnya tidak
dapat membagi, dan tidak pula dapat dibagi oleh angka/ bilangan ketiga. Untuk
menentukan KPK-nya itu dengan cara mengkalikan angka pembaginya. Dalam contoh
ini adalah 2 x 3 = 6 sebagai KPK. Misal:
|
Ahli waris |
Saham |
KPK |
|
|
|
|
|
6 |
|
9 |
|
Suami |
1/2 |
3 |
3/9 |
3 |
|
2 orang sdr. Peremp. kandung |
2/3 |
4 |
4/9 |
4 |
|
|||||
|
2 orang saudara. seibu |
1/3 |
2 |
2/9 |
2 |
|
|||||
|
Jumlah |
|
9 |
|
9 |
|
Aul |
|
3 |
|
|
NB. Masalah
Radd akan diterangkan lebih detail nanti.
Untuk memahamkan
pengertian Mubayanah, kita bandingkan dengan istilah lainnya, sbb.:
1.
Kalau angka yang besar dapat dibagi oleh angka yang kecil, ini
namanya Mudakhalah.
2.
Kalau angka yang besar tidak dapat dibagi oleh angka yang kecil,
tapi dapat dibagi oleh kehadiran angka ketiga. Ini namanya Muwafaqah.
3.
Kalau kedua angka tidak dapat saling membagi, dan tidak pula dapat
dibagi oleh kehadiran angka ketiga, maka ini disebut Mubayanah.
4.
Mumatsalah, sudah jelas.
BAB ASHABAH/ SISA
Ashabah yaitu ahli
waris yang memperoleh bagian sisa, bagian yang tidak pasti dan tidak dapat ditentukan lebih dahulu
prosentasenya.
Ashabah ada 3
kategori:
I.
Ashabah bin-nafsi, yaitu ahli waris laki-laki selain suami dan
saudara laki-laki seibu, sebagai berikut:
1.
Anak laki-laki= ابن
2.
Cucu lk dari jalur laki-laki ke bawah= ابن الابن
3.
Ayah= الأب
4.
Kakek dari jalur laki-laki/ أبو أب ke atas
5.
Saudara lk.kandung/ أخ لأبوين
6.
Saudara lk. seayah/ أخ لأب
7.
Saudara lk. seibu
8.
Anak lk. dari saudara lk. kandung/ ابن
الأخ لأبوين
9.
Anak lk. dari saudara lk. seayah/ ابن
الأخ لأب
10. Paman (sdr. ayah) kandung/ عم
لأبوين
11. Paman (sdr. ayah) seayah/ عم
لأب
12. Anak lk.dari paman sekandung/ ابن
العم لأبوين
13. Anak lk.dari paman seayah/ ابن
العم لأب
14. Suami
15. Orang laki-laki yg. memerdekakan
budak/ المعتق
Beberapa Contoh:
Ahli Waris |
SHM |
KPK |
Status |
|
|
4 |
|
Suami |
¼ |
1 |
|
Anak laki-laki |
Sisa |
3 |
Ashabah bin Nafsi |
|
|
|
II.
Ashabah Bil Ghair. `
Ashabah bil Ghair adalah ahli waris perempuan bersama saudara
lelakinya atau Mu’ashib-nya. Ini ada 4 orang:
1.
Anak perempuan/ بنت bersama saudara laki-laki.
2.
Cucu perempuan dari anak laki-laki/ بنت
ابن
bersama cucu laki-laki.
3.
Saudara perempuan kandung/ أخت لأبوين bersama saudara
laki-laki.
4.
Saudara perempuan seayah / أخت لأب bersama saudara
laki-laki.
Contoh:
Ahli Waris |
SHM |
KPK |
|
Status |
|
|
4 |
|
|
Suami |
¼ |
1 |
|
|
Anak peremp |
Ashbah |
3 |
1 |
Ashabah bilghair |
Anak laki-laki |
2 |
Ashabah binnafsi |
||
|
|
|
|
|
III.
Ashabah Ma’al Ghair
Ashabah Ma’al Ghair yaitu ahli waris wanita yang
memperoleh bagian sisa bersama wanita lain yang menjadi keturunan si mayit. Yaitu anak perempuan atau anak perempuan
dari anak laki-laki.
Ini ada 2 orang:
1.
Saudara perempuan kandung atau seayah أخت
لأب
/أخت لأبوين seorang atau lebih,
bersama seorang anak perempuan/ بنت.
2.
Saudara perempuan kandung atau seayah أخت
لأب
/أخت لأبوين seorang atau lebih,
bersama seorang anak perempuan dari anak laki-laki/ابن بنت.
Contoh:
Ahli waris |
SHM |
KPK |
Status |
|
|
8 |
|
Istri |
1/8 |
1 |
|
Anak peremp. |
½ |
4 |
|
Saudara premp.kandung |
Ashbah |
3 |
Ashabah ma’al Ghair |
|
|
|
KATEGORI AHLI WARIS
Ahli
waris bila dilihat dari segi memperoleh bagiannya, dapat dibagi menjadi 4
kategori:
A. A. Ahli waris
yang hanya memperoleh bagian pasti saja. Ini ada 5 personil:
1. Suami
2. Istri
3. Ibu
4. Nenek
5. Saudara
laki-laki/ Perempuan seibu.
B. B. Ahli waris
yang hanya memperoleh sisa/ ashabah saja. Ini ada 12 personil:
1. Anak
laki-laki
2. Cucu
laki-laki ke bawah dari jalur laki-laki
3. Saudara
laki-laki kandung
4. Anak
laki-laki dari Saudara laki-laki kandung sampai ke bawah
5. Saudara
laki-laki sebapak
6. Anak
laki-laki dari Saudara laki-laki sebapak sampai ke bawah
7. Paman
sekandung
8. Anak
laki-laki dari paman sekandung sampai ke bawah
9. Paman seayah
10. Anak
laki-laki dari paman seayah sampai kebawah
11. Mu’thiq
12. Mu’tiqah.
C. C. Ahli waris
yang kemungkinan memperoleh bagian pasti, atau bagian sisa dan tidak boleh
digabung keduanya. Ini ada 4 personil:
1. Anak
Perempuan
2. Cucu
Perempuan dari anak laki-laki
3. Saudara
Perempuan kandung
4. Saudara
perempuan seayah
D. Ahli waris
yang memperoleh bagian pasti, dan bagian sisa secara gabungan. Ini ada 2
personil:
1. Ayah
2. Kakek
BAB MAHJUB/ TERHALANG
Mahjub, menurut bahasa
adalah terhalang. Sedangkan menurut ilmu fara’id adalah terhalang mendapatkan
warisan, baik secara total atau terkurangi bagiannya, sebagai berikut:
I.
Terhijab (terhalang memperoleh warisan)
karena adanya sifat yang melekat:
1. Budak/ hamba
sahaya
2. Pembunuhan
3. Perbedaan
agama.
Ketiga sifat di atas bisa masuk pada
seluruh ahli waris, tanpa kecuali.
Ahli waris yang berstatus seperti ini,
keberadaannya dipandang seperti tidak adanya. Wujuduhu Ka’adamihi. Ia
tidak dapat memperoleh warisan, dan tidak dapat pula menjadi penghalang ahli
waris lainnya.
Seperti contoh berikut:
|
Ahli Waris |
SHM |
KPK |
Status |
|
|
|
6 |
|
|
Ibu |
1/6 |
1 |
|
|
Anak
laki-laki |
|
0 |
Pembunuh |
|
Anak peremp. |
½ |
3 |
|
|
Saudara laki-laki kandung |
Sisa |
2 |
|
|
|
|||
|
Jumlah |
|
6 |
|
NB:
Anak laki-laki seandainya tidak membunuh, ia akan mewarisi dengan cara Ashabah
binnafsi dan bisa menjadi penghalang terhadap Saudara laki-laki kandung.
Karena ia pembunuh terhadap pewarisnya, maka ia tidak mendapat apa-apa.
II.
Mahjub terhalang adanya seseorang. Yaitu
orang terhijab memperoleh warisan secara menyeluruh atau sebagian karena ada
penghalang/ hajib yang bukan status yang melekat padanya seperti yang tersebut
di atas.
Ini ada dua kategori:
1. Mahjub
Hirman, yaitu seseorang tidak memperoleh warisan
secara total karena ada ahli waris yang lebih barhak. Seperti tertib urut
kacang Panjang, sebagaimana dalam hal Ahli Waris Ashabah yang bisa
menghalangi ahli waris di bawahnya, selain ahli waris anak laki-lakiابن dan
bapak أب . Misal:
|
Ahli Waris |
SHM |
KPK |
|
|
|
1 |
|
Anak laki-laki |
Ashabah |
1 |
|
Saudara laki-laki kandung |
Mahjub |
0 |
|
|||
|
Jumlah |
|
1 |
Ini mahjub hirman, terhalang adanya ahli
waris yang lebih berhak, yaitu anak laki-laki.
Ahli waris yang terhijab hirman dapat
menjadi penghalang terhadap ahli waris dengan cara nuqshon / pengurangan
saham.
Contoh:
|
Ahli waris |
SHM |
KPK |
|
|
|
|
6 |
6 |
|
Ayah |
1/6 + sisa |
1 + 1 |
2 |
|
Ibu |
1/6 |
1 |
1 |
|
Anak perempua |
1/2 |
3 |
3 |
|
Saudara laki-laki |
mahjub |
0 |
|
|
Saudara perempuan |
|||
|
Jumlah |
|
|
6 |
Mahjub Hirman ini ada 8 personil:
|
Ahli
waris |
Penghalang/
hajib |
1 |
Kakek |
Ayah |
2 |
Nenek/ ibunya ibu |
Ibu |
Nenek/ ibunya bapak |
Ibu dan atau bapak |
|
3 |
Putranya anak laki2 |
Anak laki-laki |
4 |
Saudara laki-laki: (Kandung/ Seayah/ Seibu) |
Anak laki-laki/ Putranya anak laki2/ Bapak |
|
||
|
||
5 |
Saudara laki-laki dan Atau perempuan Seibu |
Kakek, anak perempan Atau cucu perempuan dari anak laki-laki |
|
||
|
||
6 |
Saudara laki-laki Sebapak |
Saudara laki-laki Sekandung |
|
||
7 |
Cucu perempuan dari Anak laki-laki tanpa Muashib |
Anak perempuan lebih dari dua |
|
||
|
|
|
8 |
Saudara perempuan Seayah tanpa Muashib |
Saudara perempuan sekandung lebih dari dua |
|
2. Mahjub
Nuqshon, yaitu ahli waris yang terhalang sebagian
saham perolehannya, karena ada seseorang.
Contoh:
|
Ahli waris |
SHM |
KPK |
|
|||
|
|
|
6 |
|
|||
|
Ibu |
1/3 |
2 |
|
|||
|
Seorang Saudara laki-laki/ Perempuan seibu |
1/6 |
1 |
|
|||
|
Paman (saudara kandungnya bapak |
Sisa |
3 |
|
|||
|
Jumlah |
|
6 |
|
|||
2 |
Ahli waris |
SHM |
KPK |
||||
|
|
6 |
|||||
Ibu |
1/6 |
1 |
|||||
2 orang Saudara laki-laki/ Peremp seibu |
1/3 |
2 |
|||||
Paman (saudara kandungnya bapak |
Sisa |
3 |
|||||
Jumlah |
|
6 |
|||||
Gambar
no. 1 dan 2 diatas contoh mahjub nuqshon, pengurangan dari saham 1/3 menjadi
1/6 bagi ahli waris ibu.
Mahjub Nuqson, yaitu terhalang
Sebagian perolehan harta warisan karena ada ahli waris lain. Seperti:
a. Suami/ زوجdari
mamperoleh setengah manjadi seperempat
b. Istri زوجة dari mamperoleh seperempat
menjadi seperdelapan
c. Ibu/
ام dari
mamperoleh sepertiga menjadi seperenam.
d. Ayah/bapak/ أب dari memperoleh ashabah/ sisa menjadi seperenam.
JADWAL AHLI WARIS DAN BAGIANNYA
|
Ahli Waris |
|
SHM |
Keadaan/ Status |
|
|
||||||||||||||||
1 |
Suami |
1 |
½ |
Tidak ada anak Keturunan dari mayit |
|
|||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||
2 |
¼ |
Ada anak Keturunan dari mayit |
|
|||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||
2 |
Istri: seorang atau lebih |
1 |
¼ |
Tidak ada anak Keturunan dari mayit |
|
|||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||
2 |
1/8 |
Ada anak Keturunan dari mayit |
|
|||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||
3 |
Anak perem- puan |
1 |
½ |
Jika sendirian tanpa Saudara laki-lakinya |
|
|||||||||||||||||
2 |
2/3 |
Jika lebih dari satu tanpa Saudara laki-lakinya |
|
|||||||||||||||||||
3 |
Asbbil ghair |
Jika bersama saudara Laki-lakinya/ muashib |
|
|||||||||||||||||||
4 |
Anak perempuan Dari anak Laki-laki |
1 |
1/2 |
a. Jika sendirian tanpa Muashib, |
|
|
||||||||||||||||
b. Tidak ada anak dari pewaris |
|
|||||||||||||||||||||
2 |
2/3 |
a. Lebih dari satu |
|
|
||||||||||||||||||
b. Tidak ada muashib |
|
|
||||||||||||||||||||
c. Tidak ada anak dari pewaris |
|
|||||||||||||||||||||
3 |
1/6 |
a. Jika sendirian/ lebih dari satu |
|
|||||||||||||||||||
b. ada anak Perempuan |
|
|
||||||||||||||||||||
c. Tidak ada muashib. |
|
|
||||||||||||||||||||
4 |
Mahjb |
a. Ada anak laki-laki dari pewaris |
|
|||||||||||||||||||
b. Ada anak perempuan lebih dari satu tanpa muashib. |
|
|||||||||||||||||||||
5 |
Ayah/ bapak |
1 |
1/6 |
Ada anak Keturunan laki-laki dari mayit: ابن \ ابن ابن |
|
|
||||||||||||||||
2 |
1/6 + Sisa |
Ada anak Keturunan perempuan dari mayit: |
|
|
||||||||||||||||||
بنت \ بنت ابن |
|
|
||||||||||||||||||||
3 |
Sisa |
Tidak ada anak laki-laki dari mayit: ابن \ ابن ابن |
|
|
||||||||||||||||||
6 |
Ibu |
1 |
1/3 |
Tidak ada anak keturunan dari si mayit |
|
|||||||||||||||||
2 |
1/6 |
a.Ada anak keturunan dari si mayit. |
|
|||||||||||||||||||
b. Ada saudara laki- laki/ Perempuan lebih dari satu. |
|
|||||||||||||||||||||
c. Bukan masalah gharrawain |
|
|||||||||||||||||||||
3 |
1/3 sisa |
a. Dalam masalah gharrawain |
|
|||||||||||||||||||
b. Tidak ada anak keturunan dari si mayit |
|
|||||||||||||||||||||
c. Ada saudara laki- laki/ Perempuan lebih dari satu. |
|
|||||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
||||||||||||||||
|
Ahli Waris |
|
SHM |
Keadaan/ Status |
|
|
||||||||||||||||
7 |
Kakek jalur bapak |
1 |
1/6 |
a.
Tidak ada anak keturunan
laki-laki dari si
mayit |
|
|||||||||||||||||
b.
tidak ada penghalang |
|
|
||||||||||||||||||||
c.
Tidak ada saudara laki-laki/
perempuan sekandung
atau seayah |
|
|||||||||||||||||||||
2 |
1/6 + sisa |
a.
Ada anak keturunan perempuan
dari pewaris/ mayit/
cucu perempuan jalur
laki-laki. |
|
|||||||||||||||||||
b.
Tidak ada anak keturunan
laki-laki dari si
mayit |
|
|||||||||||||||||||||
c.
tidak ada penghalang |
|
|
||||||||||||||||||||
d.
Tidak ada saudara laki-laki/
perempuan sekandung
atau seayah |
|
|||||||||||||||||||||
3 |
Sisa |
a.
Tidak ada ahli waris keturunan
dari pewaris. |
|
|||||||||||||||||||
b.
Tidak ada penghalang |
|
|
||||||||||||||||||||
c.
Tidak ada saudara laki-laki/
perempuan sekandung
atau seayah |
|
|||||||||||||||||||||
4 |
Mah- jub |
a.
Ada ayah |
|
|
||||||||||||||||||
b.
Ada kakek terdekat dari
pewaris |
|
|||||||||||||||||||||
|
Ahli Waris |
|
SHM |
Keadaan/ Status |
|
|
||||||||||||||||
8 |
Nenek |
1 |
1/6 |
Tidak ada penghalang |
|
|
||||||||||||||||
2 |
Mahjb oleh: |
a. Ibu |
|
|
||||||||||||||||||
b. Nenek yang lebih dekat dari jalur ibu |
|
|||||||||||||||||||||
Bila nenek jalur bapak, mahjub oleh yang lebih dekat |
|
|||||||||||||||||||||
9 |
Saudara Perempuan kandung |
1 |
1/2 |
a. Jika sendirian |
|
|
||||||||||||||||
b. Tidak ada muashib |
|
|
||||||||||||||||||||
c. Tidak ada penghalang |
|
|
||||||||||||||||||||
d. Tidak ada kakek. |
|
|
||||||||||||||||||||
2 |
2/3 |
a. Jika lebih dari seorang |
|
|
||||||||||||||||||
b. Tidak ada muashib |
|
|
||||||||||||||||||||
c. Tidak ada penghalang |
|
|
||||||||||||||||||||
d. Tidak ada kakek. |
|
|
||||||||||||||||||||
3 |
Ashabah bilghair |
a. Jika bersama saudaranya |
|
|||||||||||||||||||
Maal ghair |
b. Jika bersama anak Perempuan pewaris |
|
||||||||||||||||||||
4 |
Jadmaal ikhwah |
c. Bersama kakek dalam satu kasus |
|
|||||||||||||||||||
5 |
Mahjub |
a. Ada anak keturunan laki-laki dari pewaris b. Ada bapak. |
|
|||||||||||||||||||
|
|
|
||||||||||||||||||||
|
Ahli Waris |
|
SHM |
Keadaan/ Status |
|
|||||||||||||||||
10 |
Saudara Perempuan seayah |
1 |
1/2 |
a. jika sendirian |
|
|||||||||||||||||
b. Tidak ada muashib |
|
|||||||||||||||||||||
c. Tidak ada penghalang |
|
|||||||||||||||||||||
d. Tidak ada saudara laki-laki/ Perempuan kandung |
||||||||||||||||||||||
e. Tidak ada kakek. |
|
|||||||||||||||||||||
2 |
2/3 |
a. Jika lebih dari seorang |
|
|||||||||||||||||||
b. Tidak ada muashib |
|
|||||||||||||||||||||
c. Tidak ada penghalang |
|
|||||||||||||||||||||
d. Tidak ada saudara laki-laki/ Perempuan kandung |
||||||||||||||||||||||
e. Tidak ada kakek. |
|
|||||||||||||||||||||
3 |
1/6 |
a.Ada satu orang saudara Perem- puan kandung |
||||||||||||||||||||
b. Tidak ada muashib |
||||||||||||||||||||||
c. Tidak ada penghalang: |
|
|||||||||||||||||||||
1. Bapak |
|
|||||||||||||||||||||
2. kakek ke atas |
|
|||||||||||||||||||||
3. Anak dari pewaris |
|
|||||||||||||||||||||
4. Saudara laki-laki kandung |
|
|||||||||||||||||||||
4 |
Sisa |
a. Bersama muashibnya |
|
|||||||||||||||||||
b. Dalam kasus Jadd maal ikhwah |
||||||||||||||||||||||
c. Bersama anak perempuan |
|
|||||||||||||||||||||
d. Bersama cucu perempuan Dari anak laki-laki |
||||||||||||||||||||||
e. Tidak ada anak laki-laki dari pewaris/ keturunan
jalur laki-laki dari pewaris |
||||||||||||||||||||||
f. Tidak ada ayah |
|
|||||||||||||||||||||
g. Tidak ada saudara laki-laki kandung |
||||||||||||||||||||||
5 |
Mahjub |
a. ada anak laki-laki dari mayit |
|
|||||||||||||||||||
b. Ada apak |
|
|||||||||||||||||||||
c. Ada saudara laki-laki kandung |
|
|||||||||||||||||||||
d. Ada saudara Perempuan kandung lebih dari satu,
jika tanpa saudara laki-laki sebapak |
||||||||||||||||||||||
|
e. Ada saudara Perempuan kandung yang bersama anak
Perempuan/ atau cucu Perempuan dari jalur laki-laki. |
|||||||||||||||||||||
11 |
Saudara laki-laki atau Perempuan seibu |
1 |
1/3 |
a. Lebih dari satu, laki-laki atau Perempuan |
||||||||||||||||||
b. tidak ada penghalang: |
|
|||||||||||||||||||||
1. Bapak |
|
|||||||||||||||||||||
2. kakek ke atas |
|
|||||||||||||||||||||
3. Anak dari pewaris |
|
|||||||||||||||||||||
2 |
1/6 |
a. jika sendirian |
|
|||||||||||||||||||
b. Tidak ada muashib |
|
|||||||||||||||||||||
c. Tidak ada penghalang seperti |
|
|||||||||||||||||||||
No. 10.3.c |
|
|||||||||||||||||||||
3 |
Mahjub |
a. Ada bapak |
|
|||||||||||||||||||
b. Ada kakek |
|
|||||||||||||||||||||
c. Ada anak keturunan, baik laki-laki atau Perempuan
jalur laki-laki si mayit. |
||||||||||||||||||||||
|
AUL DAN RADD
MASALAH ‘AUL
‘Aul menurut
istilah ilmu waris yaitu bertambahnya perolehan perwarisan dari yang telah
ditentukan secara pasti, sehingga berakibat berkurangnya perolehan kewarisan
dari yang sebenarnya didapatkan.
Dengan kata lain, bila ada masalah kewarisan yang Asal Masalah (AM)-nya
lebih kecil dari pada jumlah angka perolehan ahli waris, maka AM-nya harus
dikoreksi. Yaitu, dengan cara menjadikan jumlah perolehan bertindak sebagai AM.
AM/ KPK (Asal Masalah/ Kelipatan Perkalian
Kecil) yang bisa terjadi Aul adalah AM 6, 12 dan 24. Misalnya sebagai berikut:
1 |
Ahli Waris |
shm |
AM |
|
|
|
|
6 |
7 |
|
|
Suami |
1/2 |
3 |
3/7 |
3 |
|
2 saudarikand. |
2/3 |
|
4/7 |
4 |
|
|
|
7 |
|
7 |
|
Aul |
|
1 |
|
|
Ini yang disebutTashihul Mas’alah, koreksi AM.
2 |
Ahli Waris |
shm |
AM |
|
|
|
|
|
13 |
13 |
|
Istri |
1/4 |
3 |
3/13 |
3 |
|
Ibu |
1/6 |
2 |
2/13 |
2 |
|
2 saudari seayah |
2/3 |
8 |
8/13 |
8 |
|
|
|
13 |
|
13 |
|
Aul |
|
1 |
|
|
|
Ahli Waris |
shm |
AM |
|
|
|
|
24 |
27 |
27 |
|
2 anakperemp. |
2/3 |
16 |
16/27 |
16 |
|
Istri |
1/8 |
3 |
3/27 |
3 |
|
Ibu |
1/6 |
4 |
4/27 |
4 |
|
Ayah |
1/6 |
|
4/27 |
4 |
|
|
|
27 |
|
27 |
|
Aul |
|
3 |
|
|
Catatan:
1. Ini yang disebutTashihul Mas’alah, koreksi AM/ KPK
2. SHM= Saham
Yang disebut Radd, menurut istilah ilmu fara’id, yaitu pengembalian sisa
harta warisan kepada ahli waris yang sudah memperoleh bagiannya masing-masing kepada
ahli waris selain suami atau istri, sesuai prosentase perolehannya.
Atau dengan
kata lain bisa dilihat, jika angka AM-nya lebih besar daripada angka hasil
perolehan (saham)-nya.
Syarat Radd
Radd terjadi
dengan 3 syarat:
1.
Adanya ahli waris yang memperoleh bagian pasti/ ash-habul furudh.
2.
Tidak ada ahli waris Ashabah yang pemperoleh bagian sisa.
3.
Ada sisa harta warisan.
Sisa harta warisan ini diberikan kepada siapa ? Ada 3 pendapat:
A.
Kepada Ahli waris selain Suami atauIstri. (Menurut Sayyidina Ali
RA., yang diikuti Imam AsySyafi’iy).
B.
Kepada seluruh Ahli waris walau kepada Suami atau Istri. (Menurut
pendapat Sayyidina Utsman dan Jabir bin Yazid)
C.
Diberikan kepada Ahli Waris selain 6 nama berikut ini:
1.
Suami/ زوج
2.
Istri, زوجة
3.
Cucu peremp. dari anak laki-laki بنت
ابن
yang bersama Anak perempuan, بنت
4.
Saudara peremp. seayah أخت لأب yang bersama saudara
peremp. sekandung, أخت لأبوين
5.
Saudara/ saudari seibu إخوة لأم yang bersama Ibu, أم
6.
Nenek.
أم
أم ....أم أب....
Catatan:
Sisa harta/
Radd diberikan kepada:
Ahli waris yang dapat meneriwa Radd yaitu:
1.
Anak permp. (بنت)
2.
Cucu permp. dari keturunan laki-laki بنت
ابن))
3.
Saudara kandung permp. أخت لأبوين))
4.
Saudara premp. seayah (أخت لأب)
5.
Ibu kandung (أم)
6.
Nenek dari ibu/ bapak (أم أم/ أم أب)
7.
Saudara permp. seibu (أخت لأم)
8.
Saudara laki-laki seibu (أخ لأم)
9.
Suami atau istri (زوج/ زوجة ), tidak memperoleh Radd menurut mazhab Imam Asy-Syafi’iy.
Cara penyelesaian Radd:
I.
Ahli waris,tanpa keberadaan suami atau istri.
a.
Ahli waris hanya seorang saja, seperti ibu, atau hanya saudara
peremp. kandung/ sebapak/ atau seibu saja, maka ia mendapatkan semu aharta
peninggalan, layaknya Ashabah dengan perincian: Bagian pasti + Radd
(lihat gb.1 dan Gb..4 dibawah).
b.
Jika ahli waris lebih dari satu dalam posisi yang sama, seperti
Anak (laki-laki atau Perempuan) maka dibagi secara bersama dengan melihat nilai jumlah personilnya, dengan prinsip
lelaki dihitung 2 bagian dan Perempuan dihitung 1 satu bagian. (lihat Gb. 2 dan
3)
Gb |
Ahli
Waris |
SHM |
AM |
|
|
||
1 |
|
|
3 |
|
|
||
Ibu |
1/3 |
1 |
|
|
|||
Radd |
2 |
|
|
||||
Jumlah |
|
3 |
|
|
|||
Gb |
Ahli
Waris |
SHM |
AM |
||||
2 |
|
|
3 |
||||
Saudara
laki-laki kandung |
Ashabah |
1 |
|||||
Saudara
laki-laki kandung |
1 |
||||||
Saudara
laki-laki kandung |
1 |
||||||
|
Jumlah
|
|
3 |
||||
Gb |
Ahli
Waris |
SHM |
AM |
|
|
|
3 |
|
|
3x |
3 |
9 |
9 |
1. Saudara peremp. kandung |
2/3 |
2x |
3 |
6 |
3 |
|
2. Saudara peremp. kandung |
3 |
|||||
3. Saudara peremp. kandung |
3 |
|||||
|
Radd
|
|
1 |
3 |
3 |
|
|
Jumlah |
|
|
|
9 |
9 |
Gb |
Ahli
Waris |
SHM |
AM |
4 |
|
|
4 |
1. Saudara laki-laki kandung |
Ash.binnafsi |
2 |
|
2. Saudara peremp. kandung |
Ash.bilghair |
2 |
|
3. Saudara peremp. kandung |
|||
|
Tidak
ada Radd, karena ada Ashabah |
|
|
|
|
|
|
|
Jumlah |
|
4 |
c.
Jika ahli waris
ada dua kelompok atau lebih, maka AM-nya dikoreksi dari jumlah saham/ perolehan
yang telah ditentukan secara pasti, tanpa melihat sisa. (Lihat Gb.4 dan 5)
Gb |
Ahli
Waris |
SHM |
AM |
|
|
|||||
4 |
|
|
6 |
5 |
|
|||||
Nenek |
1/6 |
1 |
1 |
|
||||||
Saudara
premp. kand |
1/2 |
|
3 |
|
||||||
Saudara
premp. seayah |
1/6 |
1 |
1 |
|
||||||
Jumlah
|
|
5 |
5 |
|
||||||
Radd |
|
1 |
|
|
||||||
Gb |
Ahli
Waris |
SHM |
AM |
|
|
|
||||
5 |
|
|
6 |
|
15 |
|
||||
Nenek |
1/6 |
1x3 |
|
3 |
|
|||||
|
2/3 |
|
12 |
4 |
|
|||||
|
4 |
|
||||||||
3.
Saudara peremp. kandung |
4 |
|
||||||||
|
Jumlah |
|
|
|
15 |
|
||||
|
Radd
|
|
1 |
|
|
|
||||
II.
Jika ahli waris ada suami (زوج) atau istri (زوجة), maka ambillah bagiannya
lebih dulu, lalu Radd/ sisanya untuk ahli waris yang memperoleh Radd jika hanya
seorang (lihat Gb. 6). Tapi kalau yang memperoleh Radd lebih dari seorang, maka
Radd dibagi sesuai prosentase sahamnya (Gm. 7).
Gb |
Ahli Waris |
SHM |
AM |
|
|
6 |
|
|
6 |
|
6 |
Suami |
1/2 |
3 |
|||
Ibu |
1/3 |
2 + |
1 |
3 |
|
Jumlah saham |
|
|
|
|
|
Radd |
|
1 |
|
|
|
Jumlah total |
|
|
|
6 |
Gb |
Ahli Waris |
SHM |
AM |
|
|
|
|
|
7 |
|
|
12x6 |
|
72 |
|||
Istri |
1/4 |
|
|
|
|
|
18 |
|
Ibu |
1/6 |
2+ |
6 |
12+2/6 |
12+6 |
18 |
18 |
|
Saudaralakiseibu |
1/3 |
4+ |
|
24+12 |
36 |
18 |
||
Saudarapremp. seibu |
18 |
|||||||
Jumlahsaham |
|
9x6 |
|
|
|
|
|
|
Radd |
|
3x6 |
|
18 |
|
|
|
|
Jumlah total |
|
12x6 |
|
72 |
Hitungannya adalah sbb.:
Angka 2/6 dan
4/6 (dapat dikecilkan menjadi 1/3 dan 2/3) adalah angka untuk membagi Radd yang
sisanya 18 tsb. yang akan ditambahkan kepada ahli waris yang memperolehnya.
(Gb. 7) di atas.
Gb |
Ahli Waris |
SHM |
AM |
|
|
|
|
8 |
|
|
24x |
20 |
480 |
|
|
Istri |
1/8 |
3x |
20 |
60 |
|
||
Ibu |
1/6 |
4 |
20 |
80+ |
4/20 |
84 |
|
Anak perem.بنت |
1/2 |
12 |
240+ |
12/20 |
252 |
||
Cucu peremp.بنت ابن |
1/6 |
4 |
80+ |
4/20 |
84 |
||
Jumlah saham |
|
23x |
20 |
460 |
|
|
|
Radd |
|
1x |
20 |
20 |
|
|
|
Jumlah total |
|
24x |
20 |
480 |
|
Penyelesaian
Radd seperti pada contoh Gb. no.7 dan 8, adalah yang termudah.
====================
BEBERAPA KASUS PERWARISAN
A.
Musytarakah
Musytarakah
adalah kasus perwarisan yang ahli warisnya adalah:
Gb |
Ahli Waris |
SHM |
AM |
|
|
|
9 |
|
|
6x 3 |
18 |
|
|
Suami |
½ |
3x 3 |
9 |
|
||
Ibu |
1/6 |
1x 3 |
3 |
|
||
Saudara lk.
seibu |
1/3 |
2 |
2x 3 |
6 |
2 |
|
Saudara permp.
seibu |
2 |
|||||
Saudara kandung |
Sisa |
habis |
|
2 |
||
|
Jumlah |
|
|
|
18 |
|
Dalam kasus Musytarakah ini, bila ditetapkan apa adanya, maka ahli
waris yang memperoleh bagian sisa harta, justru tidak memperoleh bagian
apa-apa. Karena harta peninggalan sudah diambil oleh ahli waris yang
mendapatkan bagian pasti/ Ashhabul Furudh. Padahal kedudukan saudara kandung أخ
لأب وأم))
itu lebih dekat daripada saudara seibu(أخ لأم). Oleh karena itu,
saudara kandung digabungkan (Musytarakah, penggabungan) dengan saudara seibu.
(Lihat Gb. 9). Seberapapun banyaknya saudara/saudari kandung, tetap digabungkan
menjadi saudara seibu, dan dibagi rata. Misal Gb. no. 10 berikut ini.
Gb |
Ahli Waris |
SHM |
AM |
|
|
|
10 |
|
|
6x4 |
24 |
|
|
Suami |
½ |
3x4 |
12 |
|
|
|
Ibu |
1/6 |
1x4 |
4 |
|
|
|
Saudara lk.
seibu |
1/3 |
2 |
2x 4 |
8 |
2 |
|
Saudara permp.
seibu |
2 |
|||||
Saudara lk.
kandung |
Sisa |
habis |
2 |
|||
|
Saudr.
peremp. kandng |
2 |
||||
|
Jumlah |
|
|
24 |
|
B.
Akdariyah
Akdariyah
adalah kasus perwarisan yang ahli warisnya terdiri dari: Suami, ibu, kakek, dan
saudara Perempuan kandung (atau seayah).
Kalau dihitung
dengan kaidah awal, maka kakek hanya mendapatkan bagian sangat minim
darisaudara Perempuan kandung/ seayah.
Padahal posisi
kakek dengan saudara perempuan itu sama, satu langkah dari pewaris (simati).
Lihat Gb.11.a. Sehingga kasus ini dibawa pada perwarisan Jadd Ma’al Ikhwah. Lihat
Gb. 11.b.
Gb |
Ahli Waris |
SHM |
AM |
|
11 a |
|
|
6 |
9 |
Suami |
1/2 |
3 |
3 |
|
Ibu |
1/3 |
2 |
2 |
|
Kakek* |
1/6 |
1 |
1 |
|
Saudara prmp.
kand./ sebapak |
1/2 |
3 |
3 |
|
Jumlah |
|
9 |
|
|
|
Aul |
|
3 |
|
|
|
|
|
|
Kakek sama
Saudara |
|
|
Gb |
Ahli Waris |
SHM |
AM |
|
|
|
|
11 b |
|
|
6 |
9x3 |
|
27 |
|
Suami |
1/2 |
3 |
3x3 |
|
9 |
|
|
Ibu |
1/3 |
2 |
2x3 |
|
6 |
|
|
Kakek* |
1/6 |
1 |
1 3 |
4x3 |
12 |
8 |
|
Saudaraprmp.
kand./sebapak |
1/2 |
3 |
4 |
||||
Jumlah |
|
9 |
9 |
|
|
|
|
|
Aul |
|
3 |
|
|
|
|
Kakek bernilai
2 dan saudara Perempuan bernilai 1
C.
Jadd ma’al Ikhwah (الجد مع الإخوة).
Kasus Jadd
ma’al Ikhwah, sebenarnya tidak disebutkan dalam Al-Qur’an maupun hadits. Ini
hanyalah hasil Ijtihad para sahabat.
Perwarisan Jadd ma’al Ikhwah, yaitu perwarisan yang ahli warisnya
terdiri dari: Kakek bersama saudara sekandung atau seayah.
Cara penyelesaian kasus Jadd Ma’al Ikhwah.
Ada 2 cara penyelesaiannya:
1.
Jadd ma’al Ikhwah tanpa ahli waris lain dari Ashhabul Furudz,
dengan perhitungan yang lebih menguntungkan untuk Jadd/ kakek antara Muqasamah,
atau sepertiga (1/3).
2.
Jadd ma’al Ikhwah bersama ahli waris lain yang mendapatkan bagian
pasti/ Ashhabul Furudz, dengan perhitungan yang lebih menguntungkan
untuk Jadd/ kakek antara Muqasamah, sepertiga sisa (1/3sisa) atau
seperenam (1/6).
Keterangan/ NB:
Muqasamah =
bagi rata sesuai nilai personil. (Laki-laki= 2, Peremp. =1)
C.1. Jadd ma’al
Ikhwah tanpa ahli waris Dzawil Furudl. Untuk lebih jelasnya seperti contoh
berikut ini:
C.1.a. Orang
meninggal dunia yang ahli warisnya adalah:
Gb |
Ahli
Waris |
SHM |
AM
1 |
|
AM
2 |
|
12 |
|
|
2 |
|
3 |
|
|
Mqs |
|
1/3 |
|
|
|
1.
Kakek/ |
1 |
1=
1/2 |
|
1 |
1 |
|
1.
orang Sdr. laki-laki kandung Atau seayah |
1 |
1=
1/2 |
sisa |
2 |
2 |
|
|
Jumlah |
2 |
|
|
3 |
|
Untuk mengetahui perolehan Jadd
yang lebih menguntungkan, hendaklah diadakan perbandingan antara MQS dan
Sepertiga, sbb.:
Mqs= ½ dan 1/3= 1/3.
Sehingga untuk Jadd yang lebih menguntungkan adalah Muqasamah.
C.1.b. Orang
meninggal dunia yang ahli warisnya adalah:
Gb |
Ahli
Waris |
SHM |
AM |
|
|
13 |
|
Mqs |
3 |
|
|
Kakek/ |
1 |
1/3 |
1 |
|
|
Saudara
laki-laki kandung |
1 |
sisa |
2 |
|
|
Saudara
laki-laki kandung |
1 |
|
|||
Jumlah |
3 |
|
3 |
|
Dalam gambar
no. 13 ini, perolehan Kakek adalah sama antara Muqasamah dan sepertiga,
sehingga kakek boleh mengambil salah satu di antara dua opsi tersebut.
C.1.c. Orang
meninggal dunia yang ahli warisnya adalah:
Gb |
Ahli
Waris |
SHM |
AM |
|
|
|||
14 |
|
Mqs |
4 |
|
|
3 |
9 |
|
Kakek/ |
1 |
|
1 |
1/3 |
1 |
3 |
||
Saudara
laki-laki kandung |
1 |
sisa |
3 |
Sisa |
2x
3 |
6 |
2 |
|
Saudara
laki-laki kandung |
1 |
2 |
||||||
Saudara
laki-laki kandung |
1 |
2 |
||||||
|
Jumlah |
4 |
|
4 |
|
|
9 |
Dalam contoh ini: Kakek dalam Mqs memperoleh ¼ dan 3/9 (=1/3).
Sehingga, dalam kasus ini kakek lebih menguntungkan memperoleh sepertiga (1/3)
daripada Muqasamah. (Gb. 14)
C.2. Jadd ma’al
Ikhwah bersama ahli waris Dzawil Furudl, maka ada 3 opsi perhitungan bagi Jadd/
kakek, yaitu: Muqasamah, Sepertiga sisa, atau seperenam
(Muqasahah, 1/3 sisa, atau 1/6). Ashhabul Furudz yang mungkin bersamanya adalah:
1.
Anak Perempuan, بنت
2.
Anak Perempuan darianaklaki-laki,بنت
ابن
3.
Nenek, جدة
4.
Ibu( (أم
5.
Suami, atau(زوج)
6.
Istri. (زوجة )
Seperti contoh
di bawah ini:
Gb |
Ahli
Waris |
SHM |
AM |
|
|
Mqsm |
15 a |
|
|
2x2 |
4 |
|
|
Suami |
1/2 |
1x2 |
2 |
|
||
Kakek |
Mqsm |
1x2 |
2 |
1 |
1/4 |
|
1
saudara laki-laki kandung |
1 |
|
||||
Jumlah |
4 |
|
Gb |
Ahli
Waris |
SHM |
AM |
1/3 |
15 b |
|
|
6 |
|
Suami |
1/2 |
3 |
|
|
Kakek |
1/3
sisa |
1 |
1/6 |
|
1
saudara laki-laki kandung |
Sisa |
2 |
|
|
Jumlah |
|
6 |
|
Gb |
Ahli
Waris |
SHM |
AM |
1/6 |
15 c |
|
|
6 |
|
Suami |
1/2 |
3 |
|
|
Kakek |
1/6 |
1 |
1/6 |
|
1
saudara laki-laki kandung |
Sisa |
2 |
|
|
Jumlah |
|
6 |
|
Jadi, kakek memperoleh yang lebih baik dari opsi ¼: 1/6: 1/6 dengan
perbandingan: 3/12 : 2/12 : 2/12. Pada Gm. 15,a,b,c. Muqasamah lebih
baik untuk kakek.
Latihan:
Gb |
Ahli
Waris |
SHM |
AM |
|
16 |
|
|
|
|
Anak
perem |
|
|
|
|
Istri |
|
|
|
|
1
Saudara laki-laki kand. |
|
|
|
|
Saudara
perem.kand |
|
|||
Kakek |
|
Gb |
Ahli
Waris |
SHM |
AM |
|
|
17 |
|
|
|
|
|
Suami |
|
|
|
|
|
Nenek |
|
|
|
|
|
Saudari
permp kand. |
|
|
|
|
|
Kakek |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Gb |
Ahli
Waris |
SHM |
AM |
|
|
|||||
18 |
|
|
|
|
|
|||||
Istri |
|
|
|
|
||||||
Anak
peremp. |
|
|
|
|
||||||
Saudara
laki-laki kand. |
|
|
|
|
||||||
Kakek |
|
|
|
|
||||||
|
|
|
|
|
|
|||||
Gb |
Ahli
Waris |
SHM |
AM |
1/6 |
|
|
||||
19 1 |
|
|
6 |
|
|
|
||||
2
orang anak prmp |
2/3 |
4 |
|
|
|
|||||
Ibu |
1/6 |
1 |
|
|
|
|||||
Kakek |
1/6 |
1 |
1/6 |
|
|
|||||
3
saudara kndung |
sisa |
--- |
|
|
|
|||||
Jumlah |
|
6 |
|
|
|
|||||
Gb |
Ahli
Waris |
SHM |
AM |
Mqs |
|
19 2 |
|
|
6x2 |
12 |
|
2
orang anak prmp |
2/3 |
4 |
8 |
|
|
Ibu |
1/6 |
1 |
2 |
|
|
Kakek |
sisa |
1x2 |
1 |
1/2 |
|
3 saudara
kndung |
1 |
|
|||
Jumlah |
|
6 |
12 |
|
Gb |
Ahli
Waris |
SHM |
AM |
1/3
sisa |
|
19 3 |
|
|
6x3 |
18 |
|
2
orang anak prmp |
2/3 |
4 |
12 |
|
|
Ibu |
1/6 |
1 |
3 |
|
|
Kakek |
1/3
sisa |
|
1 |
1/18 |
|
3
saudara kndung |
sisa |
|
2 |
|
|
Jumlah |
|
|
18 |
|
|
|
Aul |
|
|
|
|
Perhitungan yang menguntungkan buat Kakek:
1/6: 1/12: 1/18
= 6/36 : 3/36 : 2/36. Jadi, kakek lebih untung ambil 6/36,
alias seperenam.