Penulis: Ustadz Ahmad Zainuddin
Termasuk tingkat kejeniusan yang
sangat tinggi adalah mengenal kesempatan-kesempatan emas, waktu-waktu berharga,
keadaan-keadaan penting yang disebutkan di dalam syariat Islam berdasarkan Al
Quran dan hadits shahih, dan tidak membiarkan kesempatan, waktu dan keadaan
tersebut terbuang percuma tanpa diisi dengan amal shalih.
Termasuk di dalamnya KESEMPATAN EMAS DI BULAN DZULHIJJAH!!!
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum
berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ
الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي
أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ
وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ .
Artinya: “Tiada hari-hari yang amal
shalih di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini”. yakni 10 hari
pertama dari bulan Dzulhijjah, mereka (para shahabat) bertanya: “Wahai
Rasulullah, dan tidak juga berjihad di jalan Allah (lebih utama darinya)?”,
beliau bersabda: “Dan tidak juga berjihad di jalan Allah (lebih utama darinya),
kecuali seseorang yang berjuang dengan dirinya dan hartanya lalu ia tidak
kembali dengan apapun”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma
berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ
وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ
الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ”.
Artinya: “Tiada hari-hari yang lebih
agung di sisi Allah dan yang lebih ia cintai untuk beramal di dalamnya daripada
10 hari ini, maka perbanyaklah membaca tahlil, takbir, dan tahmid di dalamnya”.
(HR. Ahmad dan di shahihkan oleh Al Mundziry dan Ahmad Syakir tetapi dilemahkan
oleh Al Albani di dalam kitab Dha’ih At Targhib wa At Tarhib, 744)
Abu Qatadah Al Anshari radhiyallahu
‘anhu berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه
وسلم- سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
وَالْبَاقِيَةَ ». رواه مسلم
Artinya: Bahwa Rasulullah ditanya
tentang puasa Hari Arafah: “Menghapuskan (dosa-dosa) setahun lalu dan setahun yang
akan datang”. (HR. Muslim)
Dari Hadits-hadits di atas
dianjurkan untuk memperbanyak amal shalih di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah,
seperti; Menunaikan haji dan umrah, berpuasa, berkurban, bertakbir, bertahmid
dan bertasbih serta bertahlil, serta amal shalih lainnya.
Kenapa dianggap cerdas orang yang
menggunakan kesempatan emas ini?
1) Karena mungkin ini adalah ibadah
terakhir dan ini pertanda baik dari Allah Ta’ala.
عَنْ
أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا
اسْتَعْمَلَهُ ». فَقِيلَ كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ
الْمَوْتِ ».
Artinya: “Anas bin Malik
radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Jika Allah menginginkan kebaikan untuk seorang hamba maka dia akan
memakainya”, beliau ditanya: “Bagaimana Allah akan memakainya, wahai Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam?”, beliau menjawab: “Allah akan memberinya
petunjuk untuk beramal shalaih sebelum meninggal”. (HR. Tirmidzi dan
dishahihkan di dalam kitab shahih Al Jami’, no. 304)
2) Karena mungkin kesempatan ini
tidak akan kembali lagi.
3) Karena mungkin jika kesempatan
ini kembali kita tidak dalam keadaan sehat dan mampu beramal shalih.
عَنِ
ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
لِرَجُلٍ وَهُوَ يَعِظُهُ: ” اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ , شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ , وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ,
وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ , وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغُلُكَ , وَحَيَاتَكَ قَبْلَ
مَوْتِكَ “
Artinya: “Abdullah bin Abbas
radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda
menasehatinya: “Gunakanlah dengan baik lima perkara sebelum datang lima (yang
lain): MASA MUDAMU SEBELUM DATANG MASA TUAMU, SEHATMU SEBELUM DATANG SAKITMU,
KAYAMU SEBELUM DATANG FAKIRMU, WAKTU LUANGMU SEBELUM DATANG WAKTU SIBUKMU DAN
HIDUPMU SEBELUM DATANG MATIMU”. (HR. Al Hakim, Al Baihaqi dan di shahihkan di
dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 1077)
وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا
أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ
الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ .
Artinya: “Abdullah bin Umar
senantiasa mengucapkan: “Jika kamu masuk waktu sore maka janganlah menunggu waktu
pagi dan jika kamu masuk waktu pagi maka janganlah menunggu waktu sore,
pergunakanlah kesehatanmu untuk sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu”. (HR.
Bukhari)
4) Karena sifat malas adalah
sifatnya munafik.
{إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ
وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ
النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا }
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang
munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila
mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya
(dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali
sedikit sekali”. (QS. An Nisa: 142)
{وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ
مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ
الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ }
Artinya: “Dan tidak ada yang
menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena
mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan
sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka,
melainkan dengan rasa enggan”. (QS. At Taubah:54)
Mari perhatikan perkataan yang
sangat luar biasa ini …terutama bagi pemalas beribadah…
Berkata Syeikh Al Mufassir
Abdurrahman bin Nashir As Sa’dy rahimahullah:
والكسل
لا يكون إلا من فقد الرغبة من قلوبهم، فلولا أن قلوبهم فارغة من الرغبة إلى الله
وإلى ما عنده، عادمة للإيمان، لم يصدر منهم الكسل (تفسير السعدي ، ص: 210)
Artinya: “Sikap malas tidak akan ada
kecuali bagi siapa yang telah kehilangan keinginan (terhadap kebaikan) dari
hati-hati mereka, maka kalau seandainya hati-hati mereka tidak terlepas dari
keinginan kepada Allah dan (keinginan) kepada apa yang ada di sisi-Nya (yang
disediakan-Nya berupa nikmat) dan hilangnya iman, maka tidak akan keluar dari
mereka sikap malas”. (Lihat tafsir As Sa’diy, hal. 210)
Penulis: Ustadz Ahmad Zainuddin
Artikel www.Moslemsunnah.Wordpress.com
, dipublish ulang oleh www.muslim.or.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar